Percuma jika kukatakan bahwa aku sayang kamu. Aku siapa kamu siapa, bukan? Apalagi jika harus kukatakan bahwa aku telah jatuh cinta padamu. Itu akan terdengar sangat aneh dan lucu. Kita belum pernah bertemu, bahkan kamu sendiri belum tentu tahu siapa nama ku. Benar bukan?
Terlalu banyak hal yang berbeda di antara kita. Jika pun ada hal yang sama, mungkin karena kita sama-sama suka menulis. Entah kamu menulis untuk siapa. Tapi sekarang, aku lebih banyak menulis untuk kamu. Tapi cinta bukan berarti mencari persamaan bukan? Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa cinta itu adalah menyatukan dua perbedaan untuk kemudian saling melengkapi.
Aku tersiksa sekarang. Karena rinduku padamu tak pernah terpuaskan. Hanya memandang gambarmu tidak cukup bagiku untuk mengubur rindu bersama sang malam. Aku butuh kamu yang sebenarnya. Kian hari, rinduku kian menumpuk menjadi satu. Rindu yang membuat mataku enggan terpejam. Beberapa hari ini, aku hanya tidur beberapa jam karena memikirkan kamu dan perasaanmu terhadapku.
Aku merasa kamu sedang marah padaku. Mungkin belum menjadi benci, tapi mungkin “akan”. Jika benar pada akhirnya kamu benci padaku, entah apa masih ada alasan lain lagi untuk aku menulis seperti dulu.
Ku akui terlalu cepat untuk mengatakan bahwa aku menyayangi mu entah sebagai apa. Jelasnya, aku tidak ingin kamu membenciku. Dan ketika terbaca oleku tulisan itu, aku mulai menyadari, tidak semua orang akan bersimpati dan merasa seperti apa yang aku rasa. Mungkin termasuk juga kamu. Yah, semoga suatu saat mampu kujelaskan mengapa aku seperti ini.
Aku tidak ingin melebihkan perasaanku yang sekarang, aku tidak ingin merasa bahwa aku mencintaimu. Mungkin belum. Sadar aku tentang aku siapa kamu siapa. Untuk itu, cukup bagiku sekedar mengagumimu dari kejauhan. Membaca apa yang kamu tulis, dan melihat senyummu di gambar itu. Semua karena kamu.